Kamis, 17 April 2014

Runutan Taqdir dan Konsep taqdir dalam Islam

-disarikan dan dikategorikan oleh Ade Winata-

Runtutannya

1. Allah menciptakan Qalam (pena) 50ribu tahun sebelum adanya bumi dan langit dan mencatat segala sesuatu dan tidak ada yang luput disini, baik si fulan masuk neraka atau syurga, rejeki nya berapa, bahagia atau tidak dan segala sesuatu nya

"Sesungguhnya mahluk yang pertama kali Allah ciptakan adalah Al-Qalam, kemudian Allah berfirman kepadanya: Tulislah! Kemudian Al-Qalam berkata:Wahai Rabbku, apa yang aku tulis? Allah berfirman: Tulislah taqdir segala sesuatu sampai datang hari kiamat" (HR.Abu Dawud dan dishahihkan Syeikh Al-Albany).

Allah telah menulis taqdir semua mahluk 50 ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi, dan Arsy Allah berada di atas air." (HR. Muslim).

2. Lalu sebagian tentang taqdir diberikan kepada malaikat, tapi dalam versi yang ndak fullversion

Maka Allah akan memerintahkan malaikat agar mereka menetapkan ajal, dengan Allah firmankan kepada mereka ‘jika dia (orang yang takdirnya ditentukan) menyambung silaturahimnya maka tambahkan baginya ini dan itu, sedangkan malaikat tidak mengetahui apakah ajal orang tersebut bertambah atau berkurang. Namun Allah ‘Azza wa Jalla lah yang tahu perkara yang telah ditetapkannya. Jika ajal telah datang maka tidak dapat dipercepat atau ditunda" Majmu’ Fatawa hal. 517/VIII

3. Kemudian takdir yang dikitab malaikat diturunkan lagi kala 40 hari kedua janin terbentuk

“Kejadian seorang itu dikumpulkan di dalam perut ibunya selama empat puluh hari. Setelah genap empat puluh hari kedua, terbentuklah segumpal darah beku. Manakalah genap empat puluh hari ketiga, berbahlah menjadi segumpal daging. Kemudian Allah Ta’ala mengutus seorang malaikat untuk meniupkan roh serta memerintahkannya supaya menulis empat perkara, yaitu ditentukan rizki, waktu kematian, amal serta nasibnya, baik mendapat kecelakaan atau kebahagiaan.” (Lihat Fathul Bari, juz XI, hal. 416 dan Shahih Muslim dengan Syarah an-Nawawiy, juz XVI, hal. 195).

4. Saat dijalaninya taqdir oleh manusia

Konsep Pertama

Pada dasarnya ilmu tentang taqdir telah ditutup ama Allah dari makhluNya

“Taqdir adalah rahasia Allah yang tidak dapat diketahui oleh hamba-Nya. Tidak dapat diselidiki baik oleh Malaikat yang dekat dengan-Nya ataupun Nabi yang diutus-Nya. Memberat-beratkan diri untuk menyelidiki hal itu adalah jalan menuju ke-hinaan, terhalangnya (ilmu) dan membawa kepada sikap melewati batas dan penyelewengan. -Imam Abu Ja’far ath-Thahawi-

Kecuali yang sudah berlalu, contoh "kemarin selasa si fulan meninggal"

Konsep kedua

yang Allah takdirkan tidak akan menzalimi hambanya

Dari Abu Dzarr al-Ghifari Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dari Allah تَبَارَكَ وَتَعَالَى, Dia Subhanahu wa Ta'ala berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezhaliman terhadap Diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzhalimi...” -H.R. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no. 490)-

“Jika seandainya Allah menyiksa seluruh penghuni langit dan bumi, maka Allah tidak berbuat zhalim dengan menyiksa mereka. Jika seandainya Allah merahmati mereka, maka rahmat-Nya itu benar-benar lebih baik bagi mereka dari amal perbuatannya...” HR. Abu Dawud (no. 4699)

Konsep ketiga

taqdir bisa berubah, tapi hanya saja yang di kitab malaikat karena memang ndak version lengkap ,

Rezki yang ditetapkan dan diketahui malaikat. Maka rezki ini yang dapat bertambah dan berkurang sesuai dengan sebabnya -Majmu’ Fatawa hal. 540/VIII-

“Barangsiapa yang senang pintu rezki dibukakan untuknya (dilapangkan rezkinya) dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung silaturahim”
- HR. Bukhori no. 5980-

Konsep Keempat

Optimalisasi ikhtiar,
karena dia tidak tau masuk syurga atau neraka padahal sudah ada ketetapan di Lauhul mahfudz. Sehingga syurga atau neraka dimata manusia adalah kemungkinan dan kesempatan. Sama seperti kaya dan miskin di hari esok semua nya kesempatan karena Ilmu nya dari taqdir udah ditutup ama Allah, tugas nya ikhtiar dan tawakkal saja

“Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Dan minta tolonglah pada Allah dan janganlah malas. Apabila kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu berkata: ‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’, tetapi katakanlah: ‘Qodarollahu wa maa sya’a fa’al’ (Ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya) karena ucapan’seandainya’ akan membuka (pintu) setan.” (HR. Muslim)

“Beramallah, masing-masing akan dimudahkan melakukan apa telah dituliskan baginya.” (Riwayat Muslim).

Tidak ada seorangpun dari kalian kecuali Allah telah menetapkan tempatnya di surga atau tempatnya di neraka”. Para Sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, (kalau demikian) apakah kita tidak bersandar saja pada ketentuan takdir kita dan tidak perlu melakukan amal (kebaikan)? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Lakukanlah amal (kebaikan), karena setiap manusia akan dimudahkan (untuk melakukan) apa yang telah ditetapkan baginya -HR al-Bukhâri (no. 4666)-

5. Taqdir yang dicuri dengar oleh Syetan

Mengapa sebagaian perkataan dukun ada yang benarnya, tapi yang dicuri dengar hanya yang dikitab malaikat

Sebagian mereka di atas sebagian yang lain -digambarkan Sufyan dengan telapak tangannya, dengan direnggangkan dan dibuka jari-jemarinya- maka ketika penyadap berita (yang di atas) mendengar kalimat (firman) itu, disampaikanlah kepada yang di bawahnya, kemudian disampaikan lagi kepada yang ada di bawahnya, dan demikian seterusnya hingga disampaikan ke mulut tukang sihir atau tukang ramal. Akan tetapi kadangkala syaithan penyadap berita itu terkena syihab (panah api) sebelum sempat menyampaikan kalimat (firman) tersebut, dan kadang kala sudah sempat menyampaikannya sebelum terkena syihab; dengan satu kalimat yang didengarnya itulah, tukang sihir atau tukang ramal meIakukan seratus macam kebohongan. Mereka (yang mendatangi tukang sihir atau tukang ramal) mengatakan: ‘Bukankah dia telah memberitahu kita bahwa pada hari anu akan terjadi anu (dan itu terjadi benar)’, sehingga dipercayalah tukang sihir atau tukang ramal tersebut karena satu kalimat yang telah didengar dari Iangit.” (HR. Al Bukhori)

Dari berbagai sumber

Note: Ulasan diatas bisa salah dan juga bisa benar, kenapa bisa salah, yaa S1 nya ngambil hukum barat dulu bukan hukum islam

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda